rawabelong.com

Official site

Nasi Uduk Bang Udin

2 min read

Awalnya, usaha nasi uduk adalah proyek percobaan. Dahulu sebelum tahun 1986, ayah dari Udin, Dasuki atau akrab disapa Dada adalah pedagang kembang di Rawa Belong. Sementara, ibunya adalah pedagang kue. Ada kue lapis, lontong, dan berbagai kue lain yang dijual oleh almarhum ibunya. Dari sinilah cerita Warung Nasi Uduk Bang Udin berawal.

“Nah, di tempat biasa ibu jualan kue, sebelahnya itu kakaknya bapak yang jualan nasi uduk. Itu dulu jualan (kue dan nasi uduk) satu meja. Karena kakaknya bapak pindah ke pasar kembang, ya akhirnya banyak orang yang nanyain nasi uduk tuh,” kata Udin saat ditemui KompasTravel. Dari kegelisahan para pelanggan nasi uduk milik kakak ayah dari Udin itulah keluarganya mulai menjual nasi uduk. Almarhum Dasuki menyambi berjualan nasi uduk dan kembang. Sementara, ibunya yang meracik nasi uduk serta lauk pauk lainnya termasuk semur jengkol. “Pertama coba dua liter, terus lima liter nasi, eh habis nasi uduknya. Akhirnya pindah ke mari (tempatnya yang sekarang),” kata Udin yang memiliki lima saudara kandung. Dulu, ia berjualan tak jauh beberapa meter dari tempatnya sekarang. Hingga, akhirnya ia mendapatkan izin dari pemilik toko yang ada di belakang warung nasi uduknya.

Dari tahun 1986 hingga 1990, warungnya tak bernama. Pada suatu ketika, pelanggannya menyarankan untuk memberikan nama lantaran kesulitan menemukan warungnya. “Orang-orang bilang kasih merek aja dah (nasi uduknya). Namanya siapa tuh ya saya tanya. Nama babeh apa Udin. Akhirnya Udin aja dah yang mudaan,” ucap Udin sambil tertawa. Resep nasi uduk dari ibunya ia pelajari hingga saat ini. Pembantunya pun telah menguasai resep nasi uduk peninggalan sang almarhumah. Kini, ia bisa menghabiskan hingga 50 liter nasi uduk setiap hari bila ramai pembeli. Pengunjungnya pun hadir dari sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi serta mancanegara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *