rawabelong.com

Official site

Tentang

Jakarta sebagai Ibukota
memiliki
kompleksitas permasalahan yang berbeda dengan daerah manapun di Indonesia. Tetapi Jakarta bagaimanapun memiliki penduduk inti, yaitu orang Betawi, yang eksistensi serta budayanya perlu terjaga sebagai jati diri sebuah suku bangsa. Di tengah perkembangan kota Jakarta dan arus globalisasi yang sulit terbendung, eksistensi budaya Betawi memunculkan persoalan tersendiri. Budaya Betawi secara perlahan sudah banyak tergerus akibat kebijakan yang tidak berpihak ditengah arus modernisasi. Yang paling gamblang antara lain, banyak kesenian Betawi yang matisuri karena tidak mendapat kesempatan atau ruang hidup dan berkembang di kampungnya sendiri.

Kebudayaan Betawi Kebudayaan Betawi merupakan sebuah kebudayaan yang dihasilkan melalui percampuran antar etnis dan suku bangsa, seperti portugis, arab, cina, belanda, dan bangsa-bangsa lainnya. Sebutan suku, orang, kaum Betawi, muncul dan mulai populer ketika Mohammad Husni Tamrin mendirikan perkumpulan “Kaum Betawi” pada tahun 1918. Meski ketika itu “penduduk asli belum dinamakan Betawi, tapi Kota Batavia disebut “negeri” Betawi. Sebagai kategori “suku” dimunculkan dalam sensus penduduk tahun 1930. 

Kebudayaan Betawi yang semakin hari semakin sedikit peminatnya memiliki banyak sekali keberagaman dan keunikan yang dapat di eksplor lebih lanjut,. Untuk itu, para pemuda dan pemudi generasi penerus bangsa harus memiliki kesadaran sepenuhnya akan kebudayaan yang harus tetap di lestarikan di tengah era globalisasi yang arusnya kian deras. Peran pemerintah dalam mensosialisasikan sadar dan paham budaya untuk generasi muda juga sangat dibutuhkan dan menjadi salah satu peran penting untuk tetap menjaga kebudayaan itu sendiri dari ancaman globalisasi.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 sebagai payung hukum dan kebijakan untuk melestarikan budaya Betawi yang menjadi modal awal melahirkan kembali budaya Betawi. Perda ini mengatur tentang tumbuh kembangnya pelestarian budaya Betawi, serta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Jakarta terhadap pelerstariannya. 

Selanjutnya, Pemprov DKI juga menerbitkan Peraturan Gubernur 2018 tentang Kurikulum Muatan
Lokal yang menjadi wadah agar generasi penerus makin dekat dan mencintai budaya Betawi.

Melahirkan kembali, kemudian mempertahankan eksistensi budaya, tidak bisa dilakukan jika
harus melawan arus perubahan zaman. 
Sebaliknya, mengakui dan mengikuti perubahan dengan bijak merupakan langkah terbaik, asimilasi dengan zaman akan membuat budaya kembali mudah diterima kembali oleh masyarakat. Kebudayaan itu dinamis. Oleh karena itu, harus mengkuti arus tetapi tetap tidak membuat keasliannya hilang.

Ada beberapa asimilasi budaya dengan perkembangan zaman yang dilakukan sebagai upaya melahirkan kembali budaya Betawi, seperti pemandafaatan teknologi informasi. Tidak bisa pungkiri, contohnya anak-anak lebih suka gawai dari pada permainan tradisional, dan orang tua tidak bisa memaksa mereka harus memainkan permainan tradisional.

Generasi saat ini atau yang biasa disebut generasi milenial dan Z, lanjut dia, lebih cenderung memiliki ketertarikan teknologi visual. Lihat saat ini mereka lebih suka lihat Instagram atau YouTube. Oleh karena itu, harus menyesuaikannya membuat konten budaya menarik untuk ditampilkan di sana sehingga membuat mereka tetap mengenal dan tertarik terhadap budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *